Thursday, 29 January 2015

Sekuel Terbaru Cicak VS Buaya : Masihkah Kita Terus Menjadi Bebek?

repost from: Rusdan Fathi


foto netizen
Tahun 2015 merupakan tahun yang ditunggu. Begaimana tidak, banyak film sekuel yang ingin melanjutkan kisahnya ditahun ini. Lihat misalnya The Avengers:Age of Ultron, Batman and Superman: Manof Steel 2, James Bond 24, Star Wars 7,Mission Impossible 5, Terminator5 dan sekuel terbaru Cicak Versus Buaya dari perfileman negeri bebek . Cicak versus buaya? Jangan salah mengira sekuel ini tidak mampu bersaing dengan sekuel-sekuel industri film hollywood lainnya. Dari realitas yang ada, fakta menunjukkan bahwa sekuel cicak versus buaya lebih ramai diperbincangkan mulai dari forum di dunia maya, pojok diskusi mahasiswa hingga ruang tamu keluarga. Cicak versus buaya menceritakan tentang rentetan konflik antara proletar dan borjuis, (eh) antara dua institusi yang ‘katanya’ bertugas menegakkan hukum di negeri ini. Namun kenyataannya, konflik di antara mereka justru menunjukkan benturan otoritas yang tidak lain merupakan kegenitan berpolitik dan syndrome power masing-masing pihak. Pada sekuel perdananya yaitu Cicak Versus Buaya Jilid Satu: Kasus Susno Duaji, Cicak Versus Buaya Jilid Dua: Kasus Simulator Sim , dan terakhir Cicak Versus Buaya Jilid Tiga: Kasus Budi dan Bambang sama-sama berhasil menarik perhatian publik begitu besar. Sekuel Cicak Versus Buaya berhasil menciptakan sebuah opini publik yang begitu hangat. Saya tidak akan mereview sekuel ini karena sudah dapat dipastikan rekan-rekan semua mengetahui jalan ceritanya secara detail. Melalui tulisan ini, saya hanya mencoba menyampaikan pesan yang terkandung di dalamnya yang bisa dijadikan renungan, menurut versi saya tentunya karena ini merupakan otoritas saya. Menarik, sungguh menarik ketika kita melihat ada konsep ‘cicak’ dan ‘buaya’ dari sekuel ini. Sebenarnya, apa yang dipikirkan individu yang menggunakan konsep ‘hewan’ ini, terlebih konsep ini adalah untuk menginterpretasikan dirinya yang mutlak adalah ‘manusia’. Ya, semua berubah ketika negara api menyerang, (yak klasik!) Semua berubah ketika Susno Duaji pada 2009 lalu menggunakan konsep cicak untuk KPK dan konsep buaya untuk laki-laki
hidung belang (Polri maksudnya haha). “Cicak kok mau melawan buaya” ungkap Suneo dan Giant kala itu, (Susno deng maksudnya). Ketika diketahui bahwa sengketa dua lembaga tersebut adalah seputar korupsi, maka pertanyaan yang muncul ke permukaan adalah: Kemana si tikus? Apakah si tikus telah berevolusi menjadi buaya?Benarkah konsep tikus dan buaya memiliki definisi yang sama? Saya menemukan jawabannya segera, si tikus tetap ada, si buaya juga ada, bukan si tikus yang menjadi buaya, si tikus dan buaya adalah sahabat karib. Mereka berdua kembali kepada definisi konseptual yang tegas – Koruptor ! Namun, siapakah gerangan si ‘bebek’? Jika ditarik ke dalam akar historisnya, bebek adalah kita. Ya, kita yang selalu ikut-ikutan, kita yang selalu nitip absen, kita yang selalu
nonton film semi (lah?). Ya, bebek adalah kita yang selalu terbawa arus dan kita yang selalu tidak mampu menyeimbangkan antara pikiran dan perbuatan. Tapi perlu diingat, itu hanya sebatas pada asumsi. Sama halnya ketika Darwin berasumsi bahwa monyet adalah kita ataupun timses Jokowi yang berasumsi Jokowi adalah kita. Darwin yakin monyet adalah kita, timses Jokowi yakin Jokowi adalah kita, maka saya yakin bebek adalah kita. Sah-sah saja bukan? (Iya aja biar cepet). Opini publik yang terbentuk bukan hanya karena ada niat dari pelaku, tapi juga karena ada kesempatan, waspadalah! (hmm). Opini publik terbentu bukan hanya karena peran dari segi kekuatan cerita sekuel ini, ataupun juga dari setting tempat di negeri ini yang terkenal akan keindahan alamnya, tapi yang terpenting adalah peran kita sebagai bebek (agen sosial) a.k.a penonton, (loh!?) Jika tidak ada bebek seperti kita, tidak mungkin sekuel cicak versus buaya melambung begitu tinggi di dalam sistem sosial kita. Pada akhirnya, ada bebek yang pro cicak dan ada pula bebek yang pro buaya. Kedua pihak memiliki data yang akurat serta sangat percaya argumennya dapat dipertanggungjawabkan. Dan lucunya, si bebek, entah hanya karena kedekatan emosional semata mempercayai salah satu pihak tersebut. Dan ironinya lagi, tiba-tiba bebek-bebek tersebut berubah profesi menjadi juru bicara dari kedua belah duren (astagfirullah,kedua belah pihak). Semacam kegiatan pada sektor informal baru. Bebek di sudut merah menjelekkan buaya, sedangkan bebek di sudut biru menjelekkan cicak, “terus yang bagus siapa?Kamu!?” Mereka tidak menyadari bahwa pada akhirnya perbuatan mereka akan bermuara kepada satu kesimpulan - mengumbar aib bangsa! Apakah salah perbuatan si bebek? Tidak, karena bebek juga manusia, (dih?) Tidak, karena bebek juga punya hak bersuara. Meskipun terkadang, apa yang mereka suarakan merupakan buah dari ketidakmampuan dalam memaknai simbol. Si bebek dengan  mudah terbawa arus (globalisasi) yang begitu deras. Si bebek dapat berpindah cepat dari satu hashtag ke hashtag lain, dari satu wanita ke wanita lain (gubrak!). Si bebek adalah korban. Korban dari konflik antar lembaga di negeri ini. Korban dari keburukan sistem sosial mereka sendiri. Korban dari dosen killer, korban dari kegalauan kelompok kkn, korban dari mantan pacar, korban dari kekerasan dalam rumah tangga, (ckck). Jelasnya, si bebek adalah korban dari si cicak dan si buaya! Pernahkah anda bertanya siapakah anda? Apa tujuan hidup anda? Darimana anda berasal,mau dibawa kemana hubungan kita? (aih!).Apakah anda termasuk bebek-bebek tersebut? semua jawaban itu hanya ‘wanita’ yang tahu,(ckck,). Saya menyampaikan pesan kepada kita semua, baik untuk bebek maupun untuk manusia, dengan demikian anda tidak perlu dilema siapa jati diri anda, apakah anda bebek atau manusia.
Sebagai makhluk (sosial) yang dibekali dengan akal pikiran yang menakjubkan, alangkah mirisnya jika kita hanya memutuskan berada pada salah satu pihak. Terlebih ketika kita menyalahkan negeri nan indah ini – Indonesia. Perbuatan mencaci tersebut hanya akan membuat Basudewa Krishna dan Pudjiono murka. Sebagai akademisi, kita harus dengan taktis melihat, meraba dan menerawang apa yang sebenarnya terjadi di dalam sistem sosial kita yang ternyata diperantarai oleh media-media kejam milik para kapitalis. Dengan berkiblat pada asumsi teoritisi konflik yang mengatakan bahwa elite politik mempunyai konflik kepentingannya masing- masing dan juga kepada asumsi teoritisi fungsionalis yang mengatakan bahwa konflik- konflik tersebut adalah membahayakan bagi keseimbangan sistem. Maka sebagai seorang mahasiswa sosiologi yang memiliki IPK pas-pasan, (eh) maksudnya yang memiliki pisau analisis secara sosiologis, haruslah dapat menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi dan mencari solusi yang terbaik bagi permasalahan tersebut. BW memang sudah bebas, tetapi masalah belum tuntas. Selama Bapak Presiden tidak tegas, maka konflik akan terus meluas. Seperti dikatakan di awal, permasalahan ini merupakan syndrome power dan kegenitan berpolitik masing-masing pihak. Dan partai politik yang berdiri di belakang kedua belah pihak itulah sebenarnya yang menyebabkan hal ini. Apapun,jika sudah berkaitan dengan negara, hukum, politik dan keadilan, semuanya menjadi buram. Seakan-akan tidak jelas. (lah orang presidennya saja tidak jelas). Saya bukan pendukung Prabowo, bukan juga pendukung Jokowi. Dan jika momen ini justru dimanfaatkan pendukung Prabowo untuk mencela Jokowi, sungguh bodoh sekali. (Move on lah), mereka-mereka sudah berpikir bagaimana caranya menang di pilpres 2019 mendatang. Sedangkan anda? Masih merenungi kekalahan pilpres yang lalu? (“Politik tak seluas ring tinju Bung!”). Paling tidak, apa yang bisa kita lakukan sekarang menurut saya adalah jangan lagi kita memanas-manasi si cicak. Jangan lagi kita memanas-manasi si buaya. Jangan lagi kita memanas-manasi mantan pacar (hm). Jangan lagi kita memanas-manasi bebek-bebek lain untuk mencaci maki negeri ini. Cobalah cerdas dan cermat berpikir bagaimana caranya untuk mendamaikan si cicak dan si buaya. Cobalah berpikir bagaimana caranya menyeimbangkan sistem. Cobalah berpikir untuk membuat negeri ini menjadi lebih baik. Cobalah berpikir bagaimana caranya balikan sama mantan. Cobalah berpikir ada apa di balik semua ini? Karena apa yang dilakukan adalah untuk kebaikan masyarakat. (Tarik nafas), setidaknya, ketika kita ikut membantu mencarikan solusi atas permasalahan ini dapat meringankan beban Jokowi. Karena terlihat sekali beliau menunjukkan ketidak tegasan dan ketidak jelasan dalam memberikan pernyataan bagi permasalahan ini. “ Rakyat mungkin bisa melupakan sekedar kata, tapi rakyat takkan lupa bila dibuat ‘merasa’ oleh kata, mereka adalah barisan ‘gak jelas’ yang akan memperjelas Bapak Jokowi!” (Ungkap Rifqi Syahrizal, ketua Dema Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Jakarta). (Yah) Semoga,kita dapat membantu dan memberikan ilham kepada Pak Jokowi, amin. Akhirnya, saya menegaskan, sebaiknya kita jangan menjadi bebek. Karena memanusiakan manusia saja luar biasa sulit, apalagi memanusiakan bebek? Apa kata Karl Marx nanti?



0 komentar:

Post a Comment