repost from: Rusdan Fathi
![]() |
| foto netizen |
Tahun 2015 merupakan tahun yang ditunggu. Begaimana
tidak, banyak film sekuel yang ingin melanjutkan kisahnya ditahun ini. Lihat
misalnya The Avengers:Age of Ultron, Batman and Superman: Manof Steel 2, James
Bond 24, Star Wars 7,Mission Impossible 5, Terminator5 dan sekuel terbaru Cicak
Versus Buaya dari perfileman negeri bebek . Cicak versus buaya? Jangan salah
mengira sekuel ini tidak mampu bersaing dengan sekuel-sekuel industri film
hollywood lainnya. Dari realitas yang ada, fakta menunjukkan bahwa sekuel cicak
versus buaya lebih ramai diperbincangkan mulai dari forum di dunia maya, pojok
diskusi mahasiswa hingga ruang tamu keluarga. Cicak versus buaya menceritakan
tentang rentetan konflik antara proletar dan borjuis, (eh) antara dua institusi
yang ‘katanya’ bertugas menegakkan hukum di negeri ini. Namun kenyataannya,
konflik di antara mereka justru menunjukkan benturan otoritas yang tidak lain
merupakan kegenitan berpolitik dan syndrome power masing-masing pihak. Pada
sekuel perdananya yaitu Cicak Versus Buaya Jilid Satu: Kasus Susno Duaji, Cicak
Versus Buaya Jilid Dua: Kasus Simulator Sim , dan terakhir Cicak Versus Buaya
Jilid Tiga: Kasus Budi dan Bambang sama-sama berhasil menarik perhatian publik
begitu besar. Sekuel Cicak Versus Buaya berhasil menciptakan sebuah opini
publik yang begitu hangat. Saya tidak akan mereview sekuel ini karena sudah
dapat dipastikan rekan-rekan semua mengetahui jalan ceritanya secara detail. Melalui
tulisan ini, saya hanya mencoba menyampaikan pesan yang terkandung di dalamnya
yang bisa dijadikan renungan, menurut versi saya tentunya karena ini merupakan
otoritas saya. Menarik, sungguh menarik ketika kita melihat ada konsep ‘cicak’
dan ‘buaya’ dari sekuel ini. Sebenarnya, apa yang dipikirkan individu yang
menggunakan konsep ‘hewan’ ini, terlebih konsep ini adalah untuk menginterpretasikan dirinya yang mutlak adalah
‘manusia’. Ya, semua berubah ketika negara api menyerang, (yak klasik!) Semua
berubah ketika Susno Duaji pada 2009 lalu menggunakan konsep cicak untuk KPK
dan konsep buaya untuk laki-laki
hidung belang (Polri maksudnya haha). “Cicak kok mau
melawan buaya” ungkap Suneo dan Giant kala itu, (Susno deng maksudnya). Ketika
diketahui bahwa sengketa dua lembaga tersebut adalah seputar korupsi, maka
pertanyaan yang muncul ke permukaan adalah: Kemana si tikus? Apakah si tikus
telah berevolusi menjadi buaya?Benarkah konsep tikus dan buaya memiliki
definisi yang sama? Saya menemukan jawabannya segera, si tikus tetap ada, si
buaya juga ada, bukan si tikus yang menjadi buaya, si tikus dan buaya adalah
sahabat karib. Mereka berdua kembali kepada definisi konseptual yang tegas –
Koruptor ! Namun, siapakah gerangan si ‘bebek’? Jika ditarik ke dalam akar
historisnya, bebek adalah kita. Ya, kita yang selalu ikut-ikutan, kita yang
selalu nitip absen, kita yang selalu
nonton film semi (lah?). Ya, bebek adalah kita yang
selalu terbawa arus dan kita yang selalu tidak mampu menyeimbangkan antara
pikiran dan perbuatan. Tapi perlu diingat, itu hanya sebatas pada asumsi. Sama
halnya ketika Darwin berasumsi bahwa monyet adalah kita ataupun timses Jokowi
yang berasumsi Jokowi adalah kita. Darwin yakin monyet adalah kita, timses
Jokowi yakin Jokowi adalah kita, maka saya yakin bebek adalah kita. Sah-sah
saja bukan? (Iya aja biar cepet). Opini publik yang terbentuk bukan hanya
karena ada niat dari pelaku, tapi juga karena ada kesempatan, waspadalah!
(hmm). Opini publik terbentu bukan hanya karena peran dari segi kekuatan cerita
sekuel ini, ataupun juga dari setting tempat di negeri ini yang terkenal akan
keindahan alamnya, tapi yang terpenting adalah peran kita sebagai bebek (agen
sosial) a.k.a penonton, (loh!?) Jika tidak ada bebek seperti kita, tidak
mungkin sekuel cicak versus buaya melambung begitu tinggi di dalam sistem
sosial kita. Pada akhirnya, ada bebek yang pro cicak dan ada pula bebek yang
pro buaya. Kedua pihak memiliki data yang akurat serta sangat percaya
argumennya dapat dipertanggungjawabkan. Dan lucunya, si bebek, entah hanya
karena kedekatan emosional semata mempercayai salah satu pihak tersebut. Dan
ironinya lagi, tiba-tiba bebek-bebek tersebut berubah profesi menjadi juru
bicara dari kedua belah duren (astagfirullah,kedua belah pihak). Semacam
kegiatan pada sektor informal baru. Bebek di sudut merah menjelekkan
buaya, sedangkan bebek di sudut biru menjelekkan cicak, “terus yang bagus
siapa?Kamu!?” Mereka tidak menyadari bahwa pada akhirnya perbuatan mereka akan
bermuara kepada satu kesimpulan - mengumbar aib bangsa! Apakah salah perbuatan si bebek? Tidak, karena
bebek juga manusia, (dih?) Tidak, karena bebek juga punya hak bersuara.
Meskipun terkadang, apa yang mereka suarakan merupakan buah dari ketidakmampuan
dalam memaknai simbol. Si bebek dengan
mudah terbawa arus (globalisasi) yang begitu deras. Si bebek dapat
berpindah cepat dari satu hashtag ke hashtag lain, dari satu wanita ke wanita lain
(gubrak!). Si bebek adalah korban. Korban dari konflik antar lembaga di negeri
ini. Korban dari keburukan sistem sosial mereka sendiri. Korban dari dosen
killer, korban dari kegalauan kelompok kkn, korban dari mantan pacar, korban
dari kekerasan dalam rumah tangga, (ckck). Jelasnya, si bebek adalah korban
dari si cicak dan si buaya! Pernahkah anda bertanya siapakah anda? Apa tujuan
hidup anda? Darimana anda berasal,mau dibawa kemana hubungan kita?
(aih!).Apakah anda termasuk bebek-bebek tersebut? semua jawaban itu hanya
‘wanita’ yang tahu,(ckck,). Saya menyampaikan pesan kepada kita semua, baik
untuk bebek maupun untuk manusia, dengan demikian anda tidak perlu dilema siapa
jati diri anda, apakah anda bebek atau manusia.
Sebagai makhluk (sosial) yang dibekali dengan akal
pikiran yang menakjubkan, alangkah mirisnya jika kita hanya memutuskan berada
pada salah satu pihak. Terlebih ketika kita menyalahkan negeri nan indah ini –
Indonesia. Perbuatan mencaci tersebut hanya akan membuat Basudewa Krishna dan
Pudjiono murka. Sebagai akademisi, kita harus dengan taktis melihat, meraba dan
menerawang apa yang sebenarnya terjadi di dalam sistem sosial kita yang
ternyata diperantarai oleh media-media kejam milik para kapitalis. Dengan
berkiblat pada asumsi teoritisi konflik yang mengatakan bahwa elite politik
mempunyai konflik kepentingannya masing- masing dan juga kepada asumsi teoritisi
fungsionalis yang mengatakan bahwa konflik- konflik tersebut adalah
membahayakan bagi keseimbangan sistem. Maka sebagai seorang mahasiswa sosiologi
yang memiliki IPK pas-pasan, (eh) maksudnya yang memiliki pisau analisis secara
sosiologis, haruslah dapat menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi dan mencari solusi
yang terbaik bagi permasalahan tersebut. BW memang sudah bebas, tetapi masalah belum tuntas.
Selama Bapak Presiden tidak tegas, maka konflik akan terus meluas. Seperti
dikatakan di awal, permasalahan ini merupakan syndrome power dan kegenitan berpolitik masing-masing
pihak. Dan partai politik yang berdiri di belakang kedua belah pihak itulah
sebenarnya yang menyebabkan hal ini. Apapun,jika sudah berkaitan dengan negara, hukum, politik dan
keadilan, semuanya menjadi buram. Seakan-akan tidak jelas. (lah orang
presidennya saja tidak jelas). Saya bukan pendukung Prabowo, bukan juga pendukung Jokowi. Dan jika momen
ini justru dimanfaatkan pendukung Prabowo untuk mencela Jokowi, sungguh bodoh sekali.
(Move on lah), mereka-mereka sudah berpikir bagaimana caranya menang di pilpres
2019 mendatang. Sedangkan anda? Masih merenungi kekalahan pilpres yang lalu?
(“Politik tak seluas ring tinju Bung!”). Paling tidak, apa yang bisa kita
lakukan sekarang menurut saya adalah jangan lagi kita memanas-manasi si cicak.
Jangan lagi kita memanas-manasi si buaya. Jangan lagi kita memanas-manasi mantan pacar (hm). Jangan lagi kita
memanas-manasi bebek-bebek lain untuk mencaci maki negeri ini. Cobalah cerdas
dan cermat berpikir bagaimana caranya untuk mendamaikan si cicak dan si buaya.
Cobalah berpikir bagaimana caranya menyeimbangkan sistem. Cobalah berpikir
untuk membuat negeri ini menjadi lebih baik. Cobalah berpikir bagaimana caranya
balikan sama mantan. Cobalah berpikir ada apa di balik semua ini? Karena apa
yang dilakukan adalah untuk kebaikan masyarakat. (Tarik nafas), setidaknya,
ketika kita ikut membantu mencarikan solusi atas permasalahan ini dapat
meringankan beban Jokowi. Karena terlihat sekali beliau menunjukkan ketidak
tegasan dan ketidak jelasan dalam memberikan pernyataan bagi permasalahan ini.
“ Rakyat mungkin bisa melupakan sekedar kata, tapi rakyat takkan lupa bila
dibuat ‘merasa’ oleh kata, mereka adalah barisan ‘gak jelas’ yang akan
memperjelas Bapak Jokowi!” (Ungkap Rifqi Syahrizal, ketua Dema Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik UIN Jakarta). (Yah) Semoga,kita dapat membantu dan
memberikan ilham kepada Pak Jokowi, amin. Akhirnya, saya menegaskan, sebaiknya
kita jangan menjadi bebek. Karena memanusiakan manusia saja luar biasa sulit,
apalagi memanusiakan bebek? Apa kata Karl Marx nanti?



0 komentar:
Post a Comment