Basic Training Organization

Kegiatan kaderisasi yang dilaksanakan pada tanggal 7-9 November 2014 di Bogor yang di hadiri oleh Pemerintah Provinsi Riau (Badan Penghubung Provinsi Riau di Jakarta) dan juga tokoh Riau Bpk.Drs.H.Zaharir AR

Basic Training Organization

Foto bersama panitia dan peserta BTO dengan Tokoh Riau Bpk H.Zaharir AR

Basic Training Organization

Foto bersama pejabat Badan Penghubung Provinsi Riau di Jakarta

Basic Training Organization

Peserta tengah mengikuti pelatihan

Wednesday, 7 October 2015

Asap itu Bukan Sekedar Bencana Alam

Oleh : Dedy Ibmar*

Kabar menyengat itu kembali dihembus angin dari sumatra dan kalimantan. sudah berbulan-bulan masyarakat disana tidak menghirup udara segar layaknya manusia pada umumnya. kesehariannya mereka hanya menghirup asap yang berujung pada gangguan pernapasan. Hingga sekarang kabut asap masih menjadi pemandangan tersendiri bagi masyarakat. Asap telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di daerah rawan asap tersebut.

Seperti di Riau, ratusan hektar hutan diprovinsi yang kaya akan sumber alam itu telah hangus terbakar dilalap api. hal ini tentu tanpa sebab musabab, sebab tidak mungkin ratusan hektar hutan dapat terbakar dengan sendirinya tanpa ada yang sengaja membakar. Selain itu, kebakaran juga selalu saja berulang-ulang terjadi. Artinya, Kabut asap yang menyiksa tersebut tak dapat dikatakan sebagai bancana alam semata melainkan sekaligus kejahatan yang terstruktur dan sistematis. Kebakaran hutan seperti ini sudah pasti disengaja dan direncanakan.

Satu hal yang kiranya jelas bahwa bencana yang dilukiskan diatas adalah suatu situasi kritis. Situasi dimana terdapat jurang yang menganga antara apa yang nyata ada (das sein) dengan apa yang seharusnya ada (das sollen) di Sumatra dan Kalimantan. disadari ataupun tidak, hal ini merupakan penggambaran dari penanganan bencana kabut asap yang tak pernah padam.

Padahal pijakan hukum untuk menyelesaikan masalah ini sangat jelas. Pertama, UU No 41 tahun 1999 tentang kehutanan. Dalam pasal 50 huruf D disebutkan bahwa setiap orang dilarang untuk membakar hutan dengan alasan apapun. Kemudian pada pasal 78 disebutkan para pembakar hutan bisa dipenjara maksimal 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp 5 milyar.

UU berikutnya ialah UU No 18 tahun 2004 tentang perkebunan. pada pasal 8 ayat (1) menyebutkan bahwa bila dengan sengaja membuka dan atau mengelola lahan dengan cara pembakaran yang berakibat pencemaran dan kerusakan fungsi lingkungan hidup maka para  pelaku bisa dikenakan kurungan maksimal 10 tahun serta denda maksimal Rp 10 milyar. Terakhir ialah UU No 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. pada pasal 108 UU tersebut disebutkan bahwa melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar akan diancam pidana minimal tiga tahun dan denda minimal Rp 3 milyar.

Bukan hanya itu, terdapat beberapa hal yang secara tidak langsung dapat dikategorikan sebagai penindasan kemanusiaan. Udara tak lagi layak hirup, pekerjaan sehari-hari dihentikan, pendidikan selalu diliburkan dan kebutuhan sehari-hari pun tak dapat dipenuhi dengan baik. Kenyataan ini menunjukkan bagaimana masyarakat tertindas di tanah air nya sendiri. Oleh karna itu, pelaku pembakar hutan tidak hanya patut disebut sebagai pelanggar undang-undang melainkan juga penindas yang menggerogoti nilai-nilai kemanusiaan.

Mirisnya, hukum serta alasan-alasan diatas belum membuat pemerintah tergugah untuk sigap dan serius. Buktinya, kebakaran masih terus berlanjut dan kabut asap masih senantiasa menyelimuti. Bagaimanapun alasannya, yang harus diingat bahwa semakin lamban pemerintah menyelesaikan masalah ini maka semakin banyak pula korban yang berjatuhan. Artinya, sedikit atau banyaknya korban akan ditentukan oleh cepat atau tidaknya pemerintah bergerak. Disinilah fungsi utama pemerintah bagi masyarakat. Mereka yang menjadi korban kabut asap hanya membutuhukan kembalinya kehidupan normal mereka yakni kebakaran dan asap pergi dan tidak terulang lagi dimasa yang akan datang.


*Penulis adalah Aktifis HMI Ciputat, Penggiat Kajian PIUSH serta Anggota Serumpun Mahahasiswa Riau (SEMARI Banten).

Sunday, 19 July 2015

Warga Bisa Laporkan Jika Jumpai Pejabat Mudik Dengan Mobil Dinas

PEKANBARU: Pemerintah Provinsi Riau (Pemprov) tidak main-main menerapkan peraturan larangan mobil dinas digunakan untuk mudik lebaran. Bahkan masyarakat diminta untuk melaporkan jika menemukan adanya pejabat mudik menggunakan mobil dinas.
Kepala Satpol PP Riau, H Zainal Z Msi dalam keterangannya Rabu (15/7) di Pekanbaru mengatakan masyarakat yang menemukan adanya pejabat menggunakan mobil dinas untuk mudik lebaran silahkan hubungan nomor ponsel yang disiapkan.
"Masyarakat dipersilahkan menghubungan nomor ponsel 08137100443 atau 085211216365. Nomor tersebut memang dipersiapkan untuk menerima laporan dari masyarakat yang menemukan pejabat menggunakan mobil dinas," ungkapnya.
Selain membuka nomor ponsel khusus itu, pihaknya bersama Dinas Perhubungan Riau pun mendapatr perintah untuk melakukan pemantauan di lapangan, serta melaporkan jika masih ada pejabat menggunakan mobil dinas.
"Sesuai arahan Pimpinan, kami dapat perintah untuk melakukan pemantauan di lapangan. Jika ditemukan pejabat yang melanggar, akan segera dilaporkan," ungkapnya. Untuk itu Gubri telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) nomor: 800/BKP2D/27.13, perihal larangan penggunaan kendaraan dinas untuk mudik lebaran tahun 2015.
Menyinggung sanksi yang akan diberikan kepada pejabat yang kedapatan membawa mobil dinasnya untuk keperluan mudik, Zainal menyebutkan sanksinya sesuai dengan pasal 3 atau 4 dan ayat 13 Peraturan Pemerintah (PP) nomor 53 tahun 2010 tentang disiplin PNS.(rgi/ad)
sumber : www.riau.go.id

Tuesday, 14 July 2015

Pemrov Riau Dukung Pacu Jalur Mendunia

PEKANBARU: Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) terus mencari inovasi dalam pengembangan potensi wisata daerah. Salah satu yang dinilai memiliki peluang besar untuk "dijual" ke tingkat nasional dan internasional adalah iven pacu jalur.  ?  

Hal itu disampaikan  Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau, Fahmizal, Minggu (12/7/2015) di Pekanbaru. Menurutnya, salah satu strategi yang diperlukan adalah menggaungkan promosi sampai ke tingkat nasional dan internasional.    

"Banyak potensi wisata yang perlu kita promosikan.Untuk itu, kita terus melakukan koordinasi dengan Pemerintah Pusat untuk memaksimalkan potensi dan gaung wisata daerah. Seperti iven pacu jalur yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini," tuturnya.   

Fahmizal menerangkan, langkah tersebut merupakan wujud dukungan provinsi terhadap pengembangan destinasi wisata di daerah. Gayung bersambut, Kementerian Pariwisata menerima usulan tersebut.

Ini terlihat dengan promosi dan sosialisasi yang akan dilakukan Kementerian Pariwisata sampai ke tingkat nasional bahkan internasional.    

"Dari hasil koordinasi kita ke Kementerian Pariwisata memang itu pesannya. Harus lebih diduniakan lagi, seperti iven pacu jalur yang akan dipromosikan pusat ke tingkat internasional,"tuturnya.    

Langkah tersebut, tambah Fahmizal harus didukung dengan kesiapan daerah. Mulai dari infrastruktur, sikap yang bersahabat dengan wisatawan dan kegiatan positif lainnya.    

Salah satu dukungan yang dilakukan adalah dengan konsep home stay, karena kendala yang kerap dialami didaerah adalah minimnya hotel dan penginapan. Bahkan, untuk program ini, Disparekraf Riau juga telah merancang kerja sama dengan Kementerian Pariwisata RI.(rgi/mz)

Sumber : www.riau.go.id

Friday, 10 July 2015

Gawat... Sumatera 215 Titk Api, 192 Ada di Riau

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Hasil pengamatan satelit Terra dan Aqua Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) stasiun Pekanbaru, Jumat (10/7/2015) mendeteksi munculnya 215 titik panas (hotspot) di Sumatera. Dari angka itu, sebanyak 192 titik api di antaranya terdeteksi di wilayah Riau.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Sugarin merincikan, untuk wilayah Riau, hotspot terdeteksi menyebar di sepuluh kabupaten/kota yang didominasi oleh kabupaten Rokan Hilir (Rohil) yakni sebanyak 63 hotspot dengan confidence diatas 70 persen.

"Dari 192 hotspot di Riau, 63 hotspot terdeteksi di wilayah Rohil. Selanjutnya disusul Pelalawan dengan 53 hotspot, Inhu 20 hotspot, Bengkalis 17 hotspot, Kuansing 13 hotspot, Kampar 5 hotspot, Siak  4 hotspot, kemudian Pekanbaru dan Inhil masing-masing 3 hotspot," jelas Sugarin.

Dikatakan Sugarin, banyaknya titik panas atau hotspot yang terdeteksi di wilayah Riau telah berpengaruh langusng terhadap jarak pandang (visibility) di sejumlah kawasan di Riau. "Pekanbaru visibility 5 km (haze), Dumai  4 km (haze), Pelalawan 5 Km (haze) dan Rengat 5 km (haze)," ujar Sugarin.

Banyaknya hotspot yang terdeteksi di Riau, lanjut Sugarin juga telah berakibat langsung pada kualiatas udara dimana  alat pemantau PM10 indeks standar pencemaran udara (ISPU) Pekanbaru dalam kategori tidak sehat.

"Sedangkan prakiraan cuaca hari ini secara umum Provinsi Riau cerah berawan. Peluang turunnya hujan dengan intensitas ringan tidak merata terjadi pada malam atau dini hari di wilayah Riau bagian tengah dan pesisir timur," tukasnya.

Sumber : www.riaupos.co

Sunday, 5 July 2015

Haris Dampingi Mendagri Nonton Film "Menunggu Bono"

PELALAWAN: Segala upaya untuk mempromosikan pariwisata objek bono di Pemerintah kabupaten (Pemkab) Pelalawan, terus dilakukan Bupati Pelalawan HM Harris agar bisa dikenal oleh wisatawan domestik dan wisatawan manca negara.
Kali ini promosi wisata bono dengan membuat soundtrack film Bono dengan judul "Menunggu Bono" yang dilakukan Bupati. Dan dalam hal ini, Bupati Pelalawan HM Harris mengatakan, penggarapan film Menunggu Bono merupakan suatu tonggak perjuangan memperkenalkan dan membangun potensi daerah Pelalawan. Pengarapan film layar lebar ini mengangkat budaya melayu dan fenomena gelombang bono sebagai latar dari film tersebut.
Pemutaran film bono ini langsung disaksikan oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indinesia (Mendagri RI) Tjahyo Kumolo bersama istri, Gubenur Riau Arsyadjuliandi Rachman bersama istri, Kementerian Pariwisata, Ketua dan Anggota DPRD Provinsi Riau dan DPRD Kabupaten Pelalawan, Sektretaris Kabupaten Pelalawan Drs H Tengku Mukhlis MSi, unsur forkompinda Provinsi Riau dan forkompinda Kabupaten Pelalawan, Kepala SKPD beserta istri lingkup Provinsi Riau dan Kabupaten Pelalawan, produser, sutradara, para pemeran yang terlibat film bono dan Kru film.
Demikian hal inin disampaikan Bupati Pelalawan HM Harris didampingi Kepala Badan Perencanaan Pembangun Dearah (Bappeda) Kabupaten Pelalawan Ir M Syahrul Syarif MSi,Minggu (5/7) di Pangkalan Kerinci. Dikatakannya, bahwa pemutaran film menunggu Bono didepan Mendagri RI ingin menyampaikan, kalau Kabupaten Pelalawan merupakan suatu daerah yang mempunyai sumber daya alam (SDA) yang indah dan asri. Dimana disatu Kecamatan terdapat sebuah ombak yang kuat termasuk 5 ombak tergenas di sungai seluruh di dunia setelah Sungai Amazon di Negera Brazil.
"Segala segi sektor terus dilakukan untuk mempromosikan pariwisata di Kabupaten Pelalawan khususnya ombak Bono kepada masyarakat luar, maka dari itu saya membuat film yang menceritakan tentang kedashayatan ombak bono dengan judul " Menunggu Bono". Ombak bono merupakan ombak terganas yang terletak di Sungai Kampar setelah ombak sungai Amazon," ujar HM Harris.
Mantan Ketua DPRD Pelalawan dua periode ini mengungkapkan, bahwa Kabupaten Pelalawan sebagai negeri khatulistiwa di Pulau Sumatera pada Wilayah Provinsi Riau memiliki potensi sumberdaya alam dan kekayaan budaya yang cukup besar.
Dengan posisi yang strategis di Jalur Lintas Timur Sumatera dan terakses langsung ke Selat Melaka menjadikan Pelalawan memiliki peluang yang besar dan peran penting dalam perekonomian nasional, regional dan bahkan global.
"Maka film ini merupakan langkah kongrit guna menjawab promosi potensi di daerah ini, kita melihat melalui flim ini, akan banyak pesan-pesan moril yang bisa ditonton masyarakat regional dan bahkan global, sasaran yang kita harapkan, disamping promosi daerah, kita berharap obyek wisata bono bisa melegenda, disamping itu kita juga berharap akan banyak investor yang menanamkan modalnya di bumi Pelalawan," harapnya.
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangun Dearah (Bappeda) Kabupaten Pelalawan Ir M Syahrul Syarif menambahkan, bahwa bila ada investor yang mau menanamkan modalnya di wisata bono, berharap para investor tersebut harus mendukung visi Pembangunan Pelalawan yakni terwujudnya Kabupaten Pelalawan Yang Sejahtera, Mandiri, Inovatif, dan Berdaya Saing Global secara Berkelanjutan, dalam Masyarakat Inklusif yang Beradat, Beriman, Bertaqwa dengan Mengembangkan Nilai Budaya Melayu Tahun 2025.
"Gerak pembangunan terus dipacu dengan strategi melalui penguatan sistem inovasi daerah. Kita berharap pemerintah pusat terus mendukung program pariwisata yang di Kabupaten Pelalawan. Selain wisata bono, masih banyak objek wisata lainnya yang ada di Kabupaten Pelalawan seperti wisata Danau Tajuwid, wisata istana sayap dan lainnya. Pariwisata yang ada ini perlu dimanfaatkan baik,dengan menggarap potensi yang ada benar-benar didukung," pungkasnya. (rgi/Iin)
sumber : http://www.riau.go.id/

Wednesday, 24 June 2015

Desa Adat Perlu Kekuatan Hukum

PEKANBARU: Implementasi desa adat di Riau perlu dukungan kekuatan hukum. Ini dinilai penting agar tidak menjadi kendala di kemudian hari.
Dalam penerapannya,  desa adat ini mengacu pada Undang-undang (UU) nomor 6 tahun 2014 tentang Desa. Kendala yang ditemukan adalah persoalan waktu yang dinilai sangat singkat.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pembangunan Desa (BPM Bangdes) Provinsi Riau, Sudarman di Pekanbaru. Ia menilai, batas waktu pembentukan desa adat berlaku sampai 15 Januari 2015 lalu.  
"Waktu ini yang menjadi kendala teknis. Dalam undang-undang itu waktunya diatur selama setahun saja, mestinya tidak setahun. Karena waktunya tidak cukup untuk merajut kembali dan mencari persyaratan-persyaratan untuk pengusulannya, sesuai dengan amanat UU tersebut," kata Mantan Kepala Biro Hukum Setdaprov Riau itu.
Dengan kondisi itu, tambah Sudarman, usulan dari kabupaten kota yang lain belum dapat terealisasi secara maksimal. Untuk pelaksanaannya pun diminta ada kekuatan hukum sebagai acuan penerapannya.

sumber : riau.go.id

Undangan Buka Bersama Masyarakat Riau di Jakarta bersama Gubernur




Assalamualaikum Wr.Wb

Melanjutkan surat undangan Badan Penghubung Provinsi Riau, kami selaku pengurus SEMARI mengundang kepada abang,kakak, dan teman-teman sekalian untuk dapat hadir dalam rangka meningkatkan hubungan silaturahmi dan Ukhuwah Islamiah masyarakat Riau Jakarta dan Pemerintah daerah, pada :

Acara : Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama
Hari/Tanggal : Sabtu, 27 Juni 2015
Waktu : Pukul 16:00 - 20:00 WIB
Tempat : Gedung Sasana Kriya Taman Mini Indonesia Indah
Tema : Dengan Semangat Ramadhan Kita Tingkatkan Ukhuwah Islamiyah

Demikian undangan ini di sampaikan, atas kehadiran dan partisipasi diucapkan terima kasih.


Wassalamualaikum Wr.Wb

Tuesday, 16 June 2015

Jemputan

Assalamualaikum Wr,WB
Sehubungan akan dilaksanakannya Buka Bersama dan Temu kangen Alumni SEMARI Banten dan seluruh anggota SEMARI Banten, dengan ini kami selaku panitia mengundang kepada kakanda-kakanda dan seluruh anggota SEMARI Banten untuk menghadiri dan turut serta mengsukseskan acara tersebut, yang InsyaAllah akan dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Sabtu, 04 Juli 2015
Tempat : Hotel Mona Plaza, Pekanbaru
Waktu : 16:00 WIB s/d Selesai
Demikian undangan ini kami sampaikan, atas kehadiran dan partisipasinya kami ucapkan terimakasih.
Wassalam
Informasi Hub
0813-6596-4820 (Icksan/Ketum SEMARI 2015-2017)
0853-5591-6341 (Adlul-Sekjen)

Monday, 15 June 2015

Semari Banten Juarai Futsal Gemakusi Cup II

JAKARTA, GORIAU.COM - Serumpun Mahasiswa Riau (Semari) Banten kembali turut serta dalam turnamen futsal yang diadakan oleh organisasi daerah Gemakusi (Gerakan Mahasiswa Kuantan Singingi) Jakarta yang diadakan pada tanggal 13 Juni kemarin. Bukan hanya futsal, Semari juga turut serta meramaikan turnamen domino yang diadakan oleh Gemakusi Jakarta.

Semari meraih juara pertama dalam turnamen futsal Gemakusi Cup II yang bertemakan ''Merajut Tali Silaturahmi dalam Ranah Sportivitas'' ini setelah menundukkan lawan mereka pada babak penyisihan melawan tuan rumah dengan skor 6-0, lalu menjinakkan pemain mahasiswa Pattani, Thailand dengan kemenangan tipis 2-1. Dengan dua kemenangan tersebut Semari menjadi tim juara grup B dan akan berjumpa dengan runner up grup A.

Dalam pertandingan babak semifinal, kembali Semari mendapat hadangan dari tuan rumah, namun pemain Semari bermain dengan sangat cermat menghasilkan kemenangan dengan skor 6-1. Setelah menang melawan tuan rumah, Semari berjumpa dengan Permai Ayu pada babak final. Permainan yang menegangkan terjadi dalam babak final ini. Para pemain kedua tim mengeluarkan skill masing-masing dengan sangat baik dan cermat. Pada babak final ini Semari kembali memetik kemenangan telak dengan skor 3-0.

Satu hal yang menarik dari permainan Semari adalah tidak menurunkan kiper utama mereka. ''Ini hari yang luar biasa. Seluruh tim bekerja keras untuk meraih apa yang ditargetkan pada awal turnamen, meraih juara pertama dalam turnamen ini. Namun sangat disayangkan pada turnamen kali ini Semari tidak diperkuat oleh kiper andalannya yang sudah balik ke Riau. Terima kasih buat seluruh pemain dan supporter,'' ujar Riko Hendra Pillo, kapten tim GasForD (Generasi Anak Semari untuk Dunia).

''Ajang kali ini bukan saja merupakan ajang unjuk kemampuan, tetapi juga ajang silaturahim antar mahasiswa Riau dan juga mahasiswa primordial lainnya yang mengikuti turnamen ini. Hal yang menarik dalam turnamen yang diikuti Semari kali ini adalah justru banyak menurunkan pemain-pemain muda binaan Semari dan alhamdulillah kita yang keluar sebagai juaranya. Mudah-mudahan ke depannya kita juga bisa mengadakan turnamen yang serupa,'' ungkap ketua umum Serumpun Mahasiswa Riau (Semari) Banten.

Sunday, 31 May 2015

SEMARI Raih Penghargaan Pentas Malam Puisi Serumpun





Penyerahan penghargaan Juara Terbaik Dua oleh Jose Rizal Manua

  

Serumpun Mahasiswa Riau (SEMARI) Banten meraih penghargaan Juara ke-2 terbaik dalam ajang lomba baca puisi dalam Pentas Malam Puisi Serumpun yang digelar di Anjungan Riau Taman Mini Indonesia Indah Sabtu (30/05/15) malam.

Ilka Sawidri sebagai delegasi SEMARI Banten dalam ajang perlombaan tersebut membacakan puisi karangan Jose Rizal Manua yang berjudul “ Padamu Aku Berguru, Mama“.

Dalam kegiatan ini selain diikuti para pembaca puisi terbaik Melayu di Indonesia juga diikuti dari Singapura dan Malaysia. selain perlombaan puisi dalam pentas puisi serumpun ini juga diadakan perlombaan menulis pantun yang juga diikuti peserta dari tiga negeri Serumpun tersebut.

"Sebuah kebanggaan bagi saya menjadi delegasi SEMARI bisa tampil dihadapan para pembaca puisi terkenal di negeri Serumpun ini. Saya bahkan tidak menyangka bisa meraih penghargaan terbaik kedua,"jelas Ilka Sawidri.

Rasa syukur dan harapan juga diungkapkan oleh Ketua Umum SEMARI. “Syukur Alhamdulillah saya ucapkan atas penghargaan yang telah diraih oleh salah satu anggota SEMARI, mudah-mudahan dengan prestasi yang diraih dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa yang lainnya untuk terus berkarya dan melestaikan budaya  demi mengharumkan nama Riau,harapan kedepannya seniman- seniman muda yang telah disaring melalui ajang pentas puisi ini dapat di akomodir oleh pemerintah provinsi Riau sehingga nantinya ada generasi – generasi penyair dan budayawan Riau maupun Indonesia,”ungkap Icksan Nasution.

Foto bersama UPT Anjungan Riau Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

Acara pentas puisi negeri serumpun ini diprakarsai Yayasan Panggung Melayu bekerjasama dengan Anjungan Riau Taman Mini Indonesia Indah menggelar Malam Puisi Serumpun pada Sabtu. Selain dimeriahkan oleh berbagai pentas seni, seperti orkes melayu, tari-tarian tradisional, dan musikalisasi puisi, acara ini juga dihadiri penyair-penyair serumpun lintas negara.

Beberapa penyair yang hadir dan membacakan puisi antara lain, Jose Rizal Manua dan Anton Sulistyo (Jakarta), Darwis Said dan Karmin Abbas (Singapura), Husnu Abadi dan Kazzaini KS (Riau), Amran bin Daud (Malaysia), dan Mira Astra (bali).

Asrizal Nur, selaku konseptor acara kepada Tribun mengungkapkan, digelarnya acara pentas puisi serumpun, selain sebagai media silaturahmi para penyair serumpun, juga sebagai upaya untuk terus melestarikan puisi pantun, yang merupakan produk asli dari kebudayaan Melayu. (ISD)
                                                                      

Thursday, 28 May 2015

Bupati Irwan Nara Sumber Diskusi Publik "Meneroka Meranti Masa Kini dan Masa Akan Datang"

SELATPANJANG - Bupati Kabupaten Kepulauan Meranti Drs. H. Irwan, M.Si menjadi nara sumber Diskusi Publik dengan Tema "Meneroka Meranti Masa Kini dan Masa Akan Datang", acara yang bertujuan untuk mengkomunikasikan perkembangan dan keingan masyarakat Meranti itu, digelar di Hotel Alpha Pekanbaru, Minggu (10/5/2015).
Turut hadir dalam acara yang digelar oleh Ikatakan Pelajar Mahasiswa Selatpanjang (IPMS) Pekanbaru itu, Pengamat Tata Letak Kota Provinsi Riau Ir. Mardiyanto Manan, MT, Koordinator Wilayah Riau Program Keluarga Harapan. Dr. Abdul Halim Mahally, tokoh masyarakat Fahrudin Bakar, Anggota DPRD Riau Dapil Meranti T. Nazlah, Anggota DPRD Meranti Ardiansyah, Asisten II Sekda Ir. Anwar Zainal, Kadis/Kabag, pengurus dan anggota ikatan mahasiswa Meranti, serta tokoh lainnya.
Meranti sebagai sebuah Kabupaten termuda di Riau, untuk menjadi yang terdepan, banyak tantangan yang harus dibenahi, mulai dari pemerataan pembangunan infrastruktur, peningkatan kwalitas SDM, membangun ekonomi, hingga pengentasan masalah sosial seperti kemiskinan yang masih cukup tinggi, angka pengangguran yang tiap tahun bertambah, dan masalah kriminalitas yang terus menghantui daerah yang sedang berkembang.
Bupati Irwan, selaku pembicara berharap, melalui acara itu dapat menghadirkan berbagai ide cemerlang dalam rangka membangun Meranti lebih baik lagi kedepan, dan kepada mahasiswa dan kaum muda Meranti, dapat menjadi agent of chance dengan memanfaatkan seluruh potensi dan sumberdaya Meranti untuk melahirkan berbagai program menuju Meranti yang di cita-citakan.
Pada kesempatan itu, Bupati mengajak kepada seluruh masyarakat Meranti khususnya kaum muda untuk melihat Meranti dengan perspektif positif, menyatukan persepsi menuju Meranti yang lebih baik dimasa yang akan datang. "Jika kita melihat sesuatu secara negatif thingking maka kita tidak akan maju-maju," ucap Bupati.
Berbagai pemikiran dan pandangan muncul dalam diskusi tersebut, senada dengan Bupati Irwan, perwakilan masyarakat Syafrizal, berpendapat, masyarakat harus dapat melihat Pembangunan di Kabupaten Meranti dengan Positif Thingking, pembangunan baru dapat berjalan dengan baik jika program pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan Pemda seiring dengan kwalitas SDM yang mumpuni, untuk itu sektor SDM harus lebih dulu dibenahi.
Bupati mengatakan positif thingking sangat diperlukan, karena sebaik apapun program pembangunan yang dijalankan Pemda, jika dilihat dengan negatif thingking maka selalu tidak baik. "Jika ada yang bagus mari kita dikung bersama," ajaknya.
Tokoh masyarakat lainnya, Fahrudin Bakar mengucapkan apresiasi kepada Bupati Meranti yang telah berhasil menekan angka keluarga miskin di Meranti, yang dibuktikan dengan diperolehnya penghargaan dari Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawangsa di Kupang tahun 2014 lalu, berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan investasi dengan meraih penghargaan Sindo Weekly Magazine di bidang Investasi diawal 2015 lalu. Selain itu berhasil membawa Presiden RI Jokowidodo ke Sungai Tohor.
Seperti dijelaskan Bupati, selama kurun waktu terakhir Pemda Meranti telah berhasil menekan angka kemiskinan dari 42 persen menjadi 32 persen, namun akibat terganggunya stabilitas ekonomi nasional, kenaikan BBM dan harga sembako, menyebabkan kembali tingginya angka kemiskinan di Meranti.
Menuntaskannya, Pemda Meranti akan berupaya melakukan pemerataan pembangunan hingga ke pedesaan. Diakui Bupati, pembangunan yang ada di Selatpanjang lebih baik dari pembangunan di Kecamatan Merbau, Putri Puyu maupun Rangsang Pesisir. Hal itu dipengaruhi oleh kondisi daerah yang cukup berat serta keterbatasan akses. "untuk mengakses Desa sangat sulit, kita ingin membangun infrastruktur yang baik namun kondisi alam yang sangat berat menjadi kendala," jelas Bupati.
Seperti yang terjadi pada pembangunan Jembatan Selat Rengit (JSR) yang menghubungkan Pulau Merbau dan Tebing Tinggi. Yang direncanakan sebagai penghubung antara daerah kota dan daerah terpencil.
Masalah pengangguran di Meranti menjadi prioritas yang harus diruntaskan, sekedar informasi, jumlah tamatan SLTA sederajat di Meranti tiap tahunnya berjumlah 2700 orang, sebanyak 700 orang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, 2000 orang lainnya menganggur dan sebagian lagi masuk pasar kerja, kondisi semakin diperburuk dengan masuknya 300 orang tamatan sarjana, belum lagi Migrasi membuat tekanan pengangguran, masalah ekonomi dan keamanan semakin tinggi. Jika tidak bisa mengkondisikan peluang kerja dan masuknya investor maka akan berdampak pada meningkatnya kemiskinan.
Ikatan Pelajar Mahasiswa Selatpanjang (IPMS) foto bersama usai menggelar diskusi publik dengan narasumber utama Bupati Irwan Nasir. Mereka memperbincangkan kondisi dan nasib Kabupaten Kepulauan Meranti.
Dijelaskan Bupati, mengatasi hal itu, selama kepemimpinannya, menerapkan beberapa konsep, yakni menjamin perut masyarakat tetap kenyang, salah satunya dengan mengambil kebijakan nekat, memperkerjakan 250 orang Satpol PP. "Dulunya mereka menganggur dan banyak yang jadi preman dengan kita pekerjakan dapat mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan, begitu juga dengan mengangkat 450 orang janda miskin dan orang tua menjadi petugas kebersihan, ini bukan sekedar memperkejakan tapi usaha kita menyelesaikan masalah sosial," ujar Bupati.
Setelah perut kenyang, hal lainnya yang harus dijaga kesehatan masyarakat, saat ini Meranti memiliki Puskesma di tiap Kecamatan yang aktif 24 jam berikut 1 dokter, Puskesdes dan Pustu setta Bidan di tiap desa. Membangun kerjasama dengan RS didaerah tetanggga Tanjung Balai Karimun dan Bengkalis untuk masyarakat yang jauh dari Selatpanjang.
Setelah sehat, menurut Bupati harus pintar, dan Pemda Meranti menyiapkan dana beasiswa sebesar 6 miliar. Seperti diketahui dalam rangka mempersiapkan bibit unggul, Pemda Meranti telah menyekolahkan tamatan SMU sebanyak 25 orang di Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk menjadi tenaga pengelola pertanian hebat, Akuntasi UNRI sebanyak 30 orang, dan ITB Bandung sebanyak 33 orang, di Politeknik Pengelolaan Keuangan UGM sebanyak 30 orang serta menyekolahkan ke Sekolah Tinggi Administrasi Negara (STAN). "Semua dalam rangka melahirkan generasi muda yang tangguh sebagai operator pembangunan," ucap Bupati.
Selain itu mengupayakan masyarakat memiliki uang banyak, dengan mencibtakan berbagai peluang usaha, "saya terpaksa menjadi direktur marketing, meperkenalkan Meranti ke tingkat nasional dan internasional, hasilnya banyak investor yang masuk dan terjadi peningkatan APBD dari 300 Miliar menjadi 1.6 Triliun. Dihadapan para mahasiswa dan tokoh masyarakat, Ditegaskan Bupati Irwan, hal itu belum cukup jika tidak diiringi dengan peningkatan akhlak dan keimanan. Dan melalui program MTQ mulai dari tingkat Desa, Kecamatan hingga Kabupaten telah berhasil membawa Meranti meraih prestasi peringkat II MTQ Tingkat Provinsi Riau. Dan 6 orang Qori asal Meranti telah mewakili Riau di aja g MTQ tingkat Nasional. Ditahun 2015 ini Bupati menargetkan Meranti meraih peringkat I MTQ.
Pada kesempatan itu, Abdul Halim yang turut menjadi pembicara meminta mahasiswa dapat menjadi agent of change, menggunakan skil yang dimiliki untuk mencibtakan peluang kerja jangan sampai menjadi pengangguran. Siapkan diri menjadi manusia yang terbaik, bermanfaat tidak saja untuk keluarga tetapi bangsa dan negara.
Pengamat perkotaan Mardianto Manan, mengatakan Meranti diprediksi dapat mejadi Batam kedua hal itu sesuai dengan letaknya yang strategis berdekatan dengan dua negara tetangga Malaysia dan Singapura serta didukung potensi besar yang dimiliki. "Meranti kedepan akan mapu bersaing dan sejajar dengan Kabupaten lainnya," ujarnya.
Menurut Mardianto, untuk mewujudkannya perlu memperhatikan managemen perkotaan yakni pengelolaan sistem kegiatan yang baik, jaringan yang baik serta pengelolaan kelembagaan yang baik. (Adv)

Sumber : www.halloriau.com

Wednesday, 27 May 2015

Legislator: RTRWP Riau harus ditinjau ulang

Pekanbaru (ANTARA News) - Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Lukman Edy menyatakan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Riau harus tertunda pengesahannya karena akan ditinjau ulang kembali oleh panitia kerja tata ruang di Senayan.

"Tata Ruang bagian tugas Komisi II. Sudah ada panjanya dan hampir seluruh RTRWP di berbagai daerah akan ditinjau ulang kebijakan tata ruangnya, termasuk Riau," katanya di Pekanbaru, Rabu.

Dia mengatakan, hal itu karena selama ini instansi terkait hanya bekerja sektoral. Contohnya Kementerian Agararia Tata Ruang, Pekerjaan Umum, Kehutanan, Perkebunan punya peta dan regulasi tersendiri-sendiri dulu.

Kementerian Agraria misalnya telah menata sedemikian rupa tata ruangnya, lalu masuk kementerian kehutanan dan hasilnya jadi kacau. Untuk ini pemerintah harus duduk satu meja agar setiap sektor mempunyai kesamaan tata ruang.

"Sudah dicoba ambil peta dari semua kementrian itu saat rapat di komisi II. Ternyata setelah coba disesuaikan, ternyata tidak cocok," ungkap Ketua Fraksi PKB MPR itu.

Saat ini, kata dia, hal itu telah disepakati bahwa sektor acuannya saat ini adalah Kementerian Agraria, Tata Ruang, dan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Selanjutnya diikuti oleh kementerian terkait lainnya.

Ketika ditanyakan apakah proses pengkajian RTRWP Riau akan menghambat pembangunan provinsi itu, dia mengatakan memang akan tergannggu. Namun itulah solusi yang dinilai tepat untuk memperbaharui kacaunya tata ruang.

"Memang terganggu, tapi ini solusinya," ujar Legislator asal Riau ini.

Di Riau sendiri, belum disahkannya RTRWP sering dijadikan alasan pejabat setempat belum terlaksananya pembangunan. Bahkan untuk pembangunan yang bersumber dari dana pusat sekalipun seperti Jalan Tol TransSumatera Pekanbaru-Dumai karena melewati kawasan hutan lindung.

Sumber ; www.antaranews.com

Lomba Baca Puisi dan Menulis Pantun

Kepada teman-teman SEMARI yang ingin menyalurkan bakat puisi dan pantun buruan daftar Gratisss...

Pemprov Riau Kembali Belanja Mobil Dinas Pejabat Sebesar Rp20,7 Miliar


PEKANBARU, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau kembali melakukan pengadaan mobil dinas dengan anggaran sebesar Rp20,7 miliar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Riau Tahun 2015.


Anggaran sebesar itu disiapkan untuk membeli 105 unit mobil lagi jenis Avanza Veloz 1.300 cc. Seluruh mobil tersebut diadakan untuk memenuhi kekurangan untuk pejabat eselon III di Lingkungan Pemprov Riau, karena sebelumnya, baru 151 unit mobil yang diserahkan.

"Saat ini sedang proses lelang, dianggarkan sebesar Rp20,7 miliar," kata Kepala Biro Umum Setdaprov Riau, Azlizar Aziz, Rabu (27/5/2015).

Sebelumnya, Biro Perlengkapan Setdaprov Riau (sekarang Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah/BPKAD), pada akhir tahun 2014 lalu, juga sudah menyerahkan 151 Mobdin bagi pejabat eselon III ini. Namun karena masih banyaknya pejabat yang belum mendapat Mobdin, maka Pemprov Riau kembali membelinya.***

Sumber : www.goriau.com

Gubernur Minta SKPD Dukung Keterbukaan Informasi Publik




PEKANBARU: Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau H Arsyadjuliandi Rachaman telah menegaskan kepada seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) agar menerapkan keterbukaan informasi publik.
Hal itu disampaikan Kepala Biro Humas Setdaprov Riau, Darusman, dihadapan para awak media, saat menggelar silaturrahmi antara pejabat Humas dan awak media yang sehari-hari meliput kegiatan di kantor Gubernur Riau, Rabu (27/5), diruangannya.
"Pak Plt Gubernur telah menyampaikan kepada seluruh SKPD di lingkup Pemprov Riau soal keterbukaan informasi publik, baik itu kepada insan pers maupun kepada  masyarakat. Bahkan Plt menegaskan agar  pimpinan SKPD tidak menyembunyikan persoalan maupun progres pembangunan di SKPD bersangkutan," kata Darusman.
Keterbukaan informasi terkait pelaksanaan pembangunan di Provinsi Riau ini menurut Darusaman dipandang sangat penting oleh Plt Gubernur, karena tanpa adanya media, masyarakat tidak akan mengetahui pergerakan program pembangunan.
Menyikapi keinginan Plt Gubernur Riau tersebut, Darusman mengaku akan akan melakukan koordinasi lebih intens. Sebab, selama ini banyak program SKPD yang telah dilaksanakan tidak terekspos ke publik, sehingga tidak diketahui masyarakat luas.
"Plt Gubernur dalam berbagai kesempatan juga telah menghimbau kepada SKPD untuk tidak takut melakukan ekspos berbagai kegiatan yang dilaksanakan, karena itu juga akan membantu mereka di SKPD dalam mensukseskan berbagai program kerja yang telah disusun," tukasnya.
Kemudian, Darusman juga berharap kepada SKPD untuk memberikan informasi di intansinya kepada media. Hal ini dalam mempersamakan persepsi pembangunan, dan mendukung UU Keterbukaan Informasi tersebut kepada khalayak masyarakat.
Dalam pertemuan itu, juga membahas soal koordinasi kinerja Humas dengan media, dalam mengekspos segala kegiatan pembangunan kedepannya. (rgi/mad)
sumber : www.riau.go.id

MC Riau Raih Penghargaan Terbaik Nasional

PEKANBARU: Media Center (MC) Riau kembali meraih penghargaan secara nasional, jika tahun 2013 meraih prestasi sebagai pengelolaan MC terbaik II, tahun 2014 yang diterima tahun ini, MC Riau meraih penghargaan terbaik I.
Prestasi yang diraih tersebut berkat komitmen untuk terus menyampaikan informasi ke publik, melalui situs mediacenter.riau.go.id.
"Prestasi ini tentu membanggakan kita," sebut Kepala UPT Mediacenter Diskominfo Riau, Mastar Mahad, Rabu (27/5).
Mastar mengatakan, penghargaan Pengelolaan Media Center Terbaik I tahun 2014 itu  diserahkan pada acara Bimtek tata kelola Mediacenter daerah yang berlangsung di Pontianak, Kalimantan Barat, pada 20 sampai 22 Mei 2015.
"Saat itu yang menerima Kepala Dinas diwakili oleh Kepala Sekti Kepala Pelayanan Informasi, UPT Mediacenter Fery Sadely ST, diserahkan oleh Direktur Pengelola Media Publik Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo  Sunaryo," jelas Mastar.
Prestasi yang diraih ini diharapkan Mastar dapat memicu seluruh pengelola MC di Diskominfo Riau, terutama bagaimana mempertahankan prestasi yang  dicapai, dengan pola memberikan berita yang lebih banyak lagi, dan terus memperbaiki manajemen pengelolaannya.
"Kita mengharapkan teman-teman yang tergabung di news room, agar meningkatkan berita, terutama mengenai informasi publik, keberhasilan ini merupakan keberhasilan bersama dari Diskoinfo, dan tentunya berkat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Riau, baik dari penyedian sarana prasarana, maupun anggaran," tukasnya.
Dalam kesempatan itu Mastar juga meminta kepada daerah yang telah mendapatkan bantuan dari Kemeninfo terkait pengelolaan MC ini, agar bisa lebih aktif lagi.
"Kita menghimbau untuk daerah yang telah mendapatkan bantuan dari Kominfo, yakni Rokan Hulu dan Siak untuk bisa meningkatkan lagi kontribusi berita, karena jika aktif, maka MC tersebut akan diundang untuk mengikuti berbagai Bimtek, dalam meningkatkan kualitas SDM pengelola MC tersebut," ungkapnya mengakhri. (rgi/mad)

Thursday, 29 January 2015

Sekuel Terbaru Cicak VS Buaya : Masihkah Kita Terus Menjadi Bebek?

repost from: Rusdan Fathi


foto netizen
Tahun 2015 merupakan tahun yang ditunggu. Begaimana tidak, banyak film sekuel yang ingin melanjutkan kisahnya ditahun ini. Lihat misalnya The Avengers:Age of Ultron, Batman and Superman: Manof Steel 2, James Bond 24, Star Wars 7,Mission Impossible 5, Terminator5 dan sekuel terbaru Cicak Versus Buaya dari perfileman negeri bebek . Cicak versus buaya? Jangan salah mengira sekuel ini tidak mampu bersaing dengan sekuel-sekuel industri film hollywood lainnya. Dari realitas yang ada, fakta menunjukkan bahwa sekuel cicak versus buaya lebih ramai diperbincangkan mulai dari forum di dunia maya, pojok diskusi mahasiswa hingga ruang tamu keluarga. Cicak versus buaya menceritakan tentang rentetan konflik antara proletar dan borjuis, (eh) antara dua institusi yang ‘katanya’ bertugas menegakkan hukum di negeri ini. Namun kenyataannya, konflik di antara mereka justru menunjukkan benturan otoritas yang tidak lain merupakan kegenitan berpolitik dan syndrome power masing-masing pihak. Pada sekuel perdananya yaitu Cicak Versus Buaya Jilid Satu: Kasus Susno Duaji, Cicak Versus Buaya Jilid Dua: Kasus Simulator Sim , dan terakhir Cicak Versus Buaya Jilid Tiga: Kasus Budi dan Bambang sama-sama berhasil menarik perhatian publik begitu besar. Sekuel Cicak Versus Buaya berhasil menciptakan sebuah opini publik yang begitu hangat. Saya tidak akan mereview sekuel ini karena sudah dapat dipastikan rekan-rekan semua mengetahui jalan ceritanya secara detail. Melalui tulisan ini, saya hanya mencoba menyampaikan pesan yang terkandung di dalamnya yang bisa dijadikan renungan, menurut versi saya tentunya karena ini merupakan otoritas saya. Menarik, sungguh menarik ketika kita melihat ada konsep ‘cicak’ dan ‘buaya’ dari sekuel ini. Sebenarnya, apa yang dipikirkan individu yang menggunakan konsep ‘hewan’ ini, terlebih konsep ini adalah untuk menginterpretasikan dirinya yang mutlak adalah ‘manusia’. Ya, semua berubah ketika negara api menyerang, (yak klasik!) Semua berubah ketika Susno Duaji pada 2009 lalu menggunakan konsep cicak untuk KPK dan konsep buaya untuk laki-laki
hidung belang (Polri maksudnya haha). “Cicak kok mau melawan buaya” ungkap Suneo dan Giant kala itu, (Susno deng maksudnya). Ketika diketahui bahwa sengketa dua lembaga tersebut adalah seputar korupsi, maka pertanyaan yang muncul ke permukaan adalah: Kemana si tikus? Apakah si tikus telah berevolusi menjadi buaya?Benarkah konsep tikus dan buaya memiliki definisi yang sama? Saya menemukan jawabannya segera, si tikus tetap ada, si buaya juga ada, bukan si tikus yang menjadi buaya, si tikus dan buaya adalah sahabat karib. Mereka berdua kembali kepada definisi konseptual yang tegas – Koruptor ! Namun, siapakah gerangan si ‘bebek’? Jika ditarik ke dalam akar historisnya, bebek adalah kita. Ya, kita yang selalu ikut-ikutan, kita yang selalu nitip absen, kita yang selalu
nonton film semi (lah?). Ya, bebek adalah kita yang selalu terbawa arus dan kita yang selalu tidak mampu menyeimbangkan antara pikiran dan perbuatan. Tapi perlu diingat, itu hanya sebatas pada asumsi. Sama halnya ketika Darwin berasumsi bahwa monyet adalah kita ataupun timses Jokowi yang berasumsi Jokowi adalah kita. Darwin yakin monyet adalah kita, timses Jokowi yakin Jokowi adalah kita, maka saya yakin bebek adalah kita. Sah-sah saja bukan? (Iya aja biar cepet). Opini publik yang terbentuk bukan hanya karena ada niat dari pelaku, tapi juga karena ada kesempatan, waspadalah! (hmm). Opini publik terbentu bukan hanya karena peran dari segi kekuatan cerita sekuel ini, ataupun juga dari setting tempat di negeri ini yang terkenal akan keindahan alamnya, tapi yang terpenting adalah peran kita sebagai bebek (agen sosial) a.k.a penonton, (loh!?) Jika tidak ada bebek seperti kita, tidak mungkin sekuel cicak versus buaya melambung begitu tinggi di dalam sistem sosial kita. Pada akhirnya, ada bebek yang pro cicak dan ada pula bebek yang pro buaya. Kedua pihak memiliki data yang akurat serta sangat percaya argumennya dapat dipertanggungjawabkan. Dan lucunya, si bebek, entah hanya karena kedekatan emosional semata mempercayai salah satu pihak tersebut. Dan ironinya lagi, tiba-tiba bebek-bebek tersebut berubah profesi menjadi juru bicara dari kedua belah duren (astagfirullah,kedua belah pihak). Semacam kegiatan pada sektor informal baru. Bebek di sudut merah menjelekkan buaya, sedangkan bebek di sudut biru menjelekkan cicak, “terus yang bagus siapa?Kamu!?” Mereka tidak menyadari bahwa pada akhirnya perbuatan mereka akan bermuara kepada satu kesimpulan - mengumbar aib bangsa! Apakah salah perbuatan si bebek? Tidak, karena bebek juga manusia, (dih?) Tidak, karena bebek juga punya hak bersuara. Meskipun terkadang, apa yang mereka suarakan merupakan buah dari ketidakmampuan dalam memaknai simbol. Si bebek dengan  mudah terbawa arus (globalisasi) yang begitu deras. Si bebek dapat berpindah cepat dari satu hashtag ke hashtag lain, dari satu wanita ke wanita lain (gubrak!). Si bebek adalah korban. Korban dari konflik antar lembaga di negeri ini. Korban dari keburukan sistem sosial mereka sendiri. Korban dari dosen killer, korban dari kegalauan kelompok kkn, korban dari mantan pacar, korban dari kekerasan dalam rumah tangga, (ckck). Jelasnya, si bebek adalah korban dari si cicak dan si buaya! Pernahkah anda bertanya siapakah anda? Apa tujuan hidup anda? Darimana anda berasal,mau dibawa kemana hubungan kita? (aih!).Apakah anda termasuk bebek-bebek tersebut? semua jawaban itu hanya ‘wanita’ yang tahu,(ckck,). Saya menyampaikan pesan kepada kita semua, baik untuk bebek maupun untuk manusia, dengan demikian anda tidak perlu dilema siapa jati diri anda, apakah anda bebek atau manusia.
Sebagai makhluk (sosial) yang dibekali dengan akal pikiran yang menakjubkan, alangkah mirisnya jika kita hanya memutuskan berada pada salah satu pihak. Terlebih ketika kita menyalahkan negeri nan indah ini – Indonesia. Perbuatan mencaci tersebut hanya akan membuat Basudewa Krishna dan Pudjiono murka. Sebagai akademisi, kita harus dengan taktis melihat, meraba dan menerawang apa yang sebenarnya terjadi di dalam sistem sosial kita yang ternyata diperantarai oleh media-media kejam milik para kapitalis. Dengan berkiblat pada asumsi teoritisi konflik yang mengatakan bahwa elite politik mempunyai konflik kepentingannya masing- masing dan juga kepada asumsi teoritisi fungsionalis yang mengatakan bahwa konflik- konflik tersebut adalah membahayakan bagi keseimbangan sistem. Maka sebagai seorang mahasiswa sosiologi yang memiliki IPK pas-pasan, (eh) maksudnya yang memiliki pisau analisis secara sosiologis, haruslah dapat menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi dan mencari solusi yang terbaik bagi permasalahan tersebut. BW memang sudah bebas, tetapi masalah belum tuntas. Selama Bapak Presiden tidak tegas, maka konflik akan terus meluas. Seperti dikatakan di awal, permasalahan ini merupakan syndrome power dan kegenitan berpolitik masing-masing pihak. Dan partai politik yang berdiri di belakang kedua belah pihak itulah sebenarnya yang menyebabkan hal ini. Apapun,jika sudah berkaitan dengan negara, hukum, politik dan keadilan, semuanya menjadi buram. Seakan-akan tidak jelas. (lah orang presidennya saja tidak jelas). Saya bukan pendukung Prabowo, bukan juga pendukung Jokowi. Dan jika momen ini justru dimanfaatkan pendukung Prabowo untuk mencela Jokowi, sungguh bodoh sekali. (Move on lah), mereka-mereka sudah berpikir bagaimana caranya menang di pilpres 2019 mendatang. Sedangkan anda? Masih merenungi kekalahan pilpres yang lalu? (“Politik tak seluas ring tinju Bung!”). Paling tidak, apa yang bisa kita lakukan sekarang menurut saya adalah jangan lagi kita memanas-manasi si cicak. Jangan lagi kita memanas-manasi si buaya. Jangan lagi kita memanas-manasi mantan pacar (hm). Jangan lagi kita memanas-manasi bebek-bebek lain untuk mencaci maki negeri ini. Cobalah cerdas dan cermat berpikir bagaimana caranya untuk mendamaikan si cicak dan si buaya. Cobalah berpikir bagaimana caranya menyeimbangkan sistem. Cobalah berpikir untuk membuat negeri ini menjadi lebih baik. Cobalah berpikir bagaimana caranya balikan sama mantan. Cobalah berpikir ada apa di balik semua ini? Karena apa yang dilakukan adalah untuk kebaikan masyarakat. (Tarik nafas), setidaknya, ketika kita ikut membantu mencarikan solusi atas permasalahan ini dapat meringankan beban Jokowi. Karena terlihat sekali beliau menunjukkan ketidak tegasan dan ketidak jelasan dalam memberikan pernyataan bagi permasalahan ini. “ Rakyat mungkin bisa melupakan sekedar kata, tapi rakyat takkan lupa bila dibuat ‘merasa’ oleh kata, mereka adalah barisan ‘gak jelas’ yang akan memperjelas Bapak Jokowi!” (Ungkap Rifqi Syahrizal, ketua Dema Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Jakarta). (Yah) Semoga,kita dapat membantu dan memberikan ilham kepada Pak Jokowi, amin. Akhirnya, saya menegaskan, sebaiknya kita jangan menjadi bebek. Karena memanusiakan manusia saja luar biasa sulit, apalagi memanusiakan bebek? Apa kata Karl Marx nanti?



Tuesday, 9 December 2014

Menuju Riau 2020, Serumpun Mahasiswa Riau Banten Adakan Seminar Kebudayaan di UIN Jakarta




JAKARTA, GORIAU.COM - Serumpun Mahasiswa Riau (Semari) Banten bekerjasama dengan Badan Penghubung Provinsi Riau melaksanakan acara seminar kebudayaan di parkiran Aula Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Minggu (7/12/2014).

Tema yang diangkat dalam seminar tersebut “Mengangkat Bakat Mahasiswa Riau Tentang Seni Budaya Melayu di Berbagai Bidang dalam Menghadapai Globalisasi untuk mencapai visi misi Riau 2020 sebagai Pusat Kebudayaan Melayu Se-Asia Tenggara”

Acara yang dibuka dengan penampilan silat persembahan dan juga penampilan tari persembahan yang dibawakan oleh mahasiswa Riau, menjadi pusat perhatian peserta yang hadir dalam acara tersebut,

Ketua Panitia dan juga Kabid Kemasyarakatan Badan Penghubung Provinsi Riau, Drs.Zulfikar, MSi, MH dalam sambutannya menyampaikan, tema yang diangkat dalam seminar tersebut bertujuan untuk mewujudkan sebuah payung kebudayaan daerah, yakni kelangsungan budaya melayu secara komunitas mahasiswa dalam kerangka pemberdayaan sebagai alat pemersatu dari berbagai etnis yang ada menumbuh kembangkan bakat serta pembinaan khusus untuk mehasiswa Riau Jabodetabek dalam seni budaya melayu melalui organisasi-organisasi yang ada.

Dikatakan, dengan acara ini organisasi primordial Riau seperti Semari Banten bisa segera membentuk sanggar kebudayaan untuk pendanaan dan pengadaan alat pendukung kami akan membantu komunikasikan ke Pemprov.

Alumni sarjana kebudayaan ini juga mengatakan bahwa Seminar ini nantinya diharapkan mampu melahirkan sanggar-sanggar baru untuk mendukung Budaya Riau itu sendiri.

Seminar diikuti lebih kurang 200 peserta yang terdiri dari pengurus dan anggota Serumpun Mahasiswa Riau (Semari) Banten, PNS dari Badan Penghubung provinsi Riau, dan Organisasi primordial dari berbagai daerah nusantara, topik yang dibahas tentang harapan dan langkah-langkah dalam terwujudnya Visi Misi Riau 2020,

''Hasil dari seminar ini diharapkan dapat dibukukan dan menjadi pedoman sehari hari, juga diharapkan organisasi mahasiswa Riau yang ada diluar daerah untuk dapat lebih mencintai dan memperkenalkan seni dan kebudayaan Riau di tingkat nasional dan juga selalu mengadakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya lebih kepada kebudayaan,'' kata Karyono, SHi, SPd, MH selaku Dewan Pembina Organisasi Serumpun Mahsiswa Riau Semari Banten.

Sementara itu, narasumber M Reyhanuddin T dalam penyampaiannya, dalam mencapai visi misi Riau, pemerintah daerah diharapkan lebih memperhatikan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan kebudayaan baik di daerah maupun di luar daerah untuk mempromosikan seni budaya Riau, juga menjadi PR bersama baik pemerintah daerah maupun masyarakat untuk mempertahankan seni dan kebudayaan Riau kepada generasi yang akan datang agar tetap lestari, dengan selalu melaksanakan kegiatan kebudayaan dalam membantu terwujudnya visi Riau 2020

Pengurus dan juga ketua Serumpun Mahasiswa Riau (Semari) Banten Andi Zaidul Khair dalam sambutannya menyampaikan terimakasih kepada Badan penghubung Provinsi Riau yang telah memberikan kesempatan kepada Semari Banten, untuk bersama menyelenggarakan acara seminar ini dan kedepan kegiatan-kegiatan kebudayaan sehingga diharapkan seni dan kebudayaan Riau akan terus ada dan tetap lestari, dan Serumpun Mahsiswa Riau Siap mendukung dalam terwujudnya visi misi riau tahun 2020

Saturday, 18 May 2013

Memahat Marwah Diatas Langit

Perawakannya kecil. Sepeda sankinya juga tak besar. Jilbabnya selalu bercorak biru muda. Suaranya, melengking. Tak sebanding dengan tubuhnya yang ringkih. Ibu Hasnah selalu kami memanggilnya. 27 tahun lalu di kelas dua SDN 011 Kampung Besar Seberang Rengat yang lapuk, dia mengatakan, pendidikan itu seperti mata. Pendidikan itu adalah cahaya.

Saat itu kami, apalagi saya tidak paham makna apa yang ada di balik mata dan cahaya. Karena memang dia tidak menerjemahkan secara lengkap. Dan kalaupun dijelaskannya saat itu, saya pastikan kami, terutama saya tidak mungkin akan mengerti maksudnya.
Setelah berjuta-juta menit mengikuti peradaban kehidupan, barulah saya memahami, bahwa pendidikan itu menuntun kita untuk tetap berada dalam jalan yang benar. Pendidikan menjadi penerang dalam kegelapan. Pendidikan itu seperti matahari, seperti bulan, seperti bintang. Pendidikan itu mengakat derajat, pendidikan itu mengakat marwah. Bersyukurlah bagi orang-orang yang telah terdidik.

Dengan pendidikan jugalah, Riau sebagai sebuah provinsi terbentuk. Digagas oleh H Wan Ghalib, H Abdul Hamid Yahya, T Kamarulzaman, Zaini Kunin, Ridwan Taher, H Abdullah Hasan dan HM Amin, serta orang-orang terdidik lainya, melalui Kongres Rakyat Riau I tahun 1956, terwujudlah mimpi menjadi Bumi Lancang Kuning sebuah provinsi otonom terlepas dari Provinsi Sumatera Tengah.

Begitu juga gubernur yang memimpin Riau. Pasca reformasi sudah tiga periode pemimpin Riau berasal dari orang Riau sendiri yang terdidik. Dari zaman H Saleh Djasit hingga HM Rusli Zainal. Bupati/wali kota juga sama, dipimpin oleh orang Riau asli yang terdidik. Mestinya orang-orang terdidik ini lebih berorientasi untuk memerioritaskan pembangunan dunia pendi dikan. Dengan harapan masyarakat Riau secara keseluruhan mendapatkan pendidikan yang layak. Sehingga marwah masyarakat Riau bisa terangkat.

Beberapa pekan lalu, saya berada di Desa Mentulik di Kabupaten Kampar. Dari Pekanbaru untuk mencapai desa ini memerlukan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda empat. Jalan menuju desa yang terletak dipinggiran sungai Kampar ini adalah jalan tanah. Panas berdebu, hujan becek. Dalam benak saya saat itu, bagaimanalah anak-anak di desa ini jika ingin melanjutkan sekolah ketingkat yang lebih tinggi. Harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan.

Hampir di seluruh kabupaten/kota kondisi ini sangat gampang ditemui. Selain persoalan infrastruktur, juga masalah ketersediaan fasilitas penunjang pendidikan yang masih minim.  Jika melihat data Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Riau, penghujung tahun 2012, ada 11.043 ruang kelas yang tergolong rusak.Dari jumlah tersebut, 6.985 ruang kelas di antaranya tergolong rusak ringan. Sementara 4.058 ruang kelas lainnya tergolong rusak berat.

Ruang kelas rusak berat terbanyak ada di tingkat sekolah dasar (SD). Dimana, dari 21.137 ruang kelas di SD negeri se Riau, 2.334 ruang diantaranya tergolong rusak berat. Sementara di SD swasta jumlah yang rusak berat mencapai 164 ruang kelas. Begitu juga ruang kelas di tingkat SMP. Dimana, dari 4.802 SMP negeri, 265 ruang di antaranya dinyatakan tergolong rusak berat. Sementara, 724 ruang lainnya tergolong rusak ringan. Lalu, di SMP swasta, 150 ruang rusak berat dan 185 ruang tergolong rusak ringan. Hal yang sama juga terjadi untuk ruang kelas SMA.Ironis.

Dua hari yang lalu, dan hampir setiap hari saya melihat gedung-gedung yang dibangun oleh pemerintah di Pekanbaru. Menjulang. Dengan desain modern, berdiri kokoh. Ada berbentuk bundar dengan puluhan ribu tempat duduk, ada bujur sangkar dengan ornamen Selembayung. Ada  Corak dan warna mengusung konsep minimalis tapi dengan anggaran maksimalis. Gedung-gedung itu, saat ini membisu, diam dan kaku. Setelah riuh beberapa pekan, lalu sunyi untuk waktu yang jauh.

Saya tidak tahu keberadaan Ibu Hasnah saat ini. Apakah berumur panjang atau menepi di samping ilahi.

Entahlah Ibu Hasnah....maafkan kami tak sempurna mengartikan mata dan cahaya. Karena kami saat ini hanya mampu memahat marwah di atas langit, bukan di bumi tempat kami berpijak.***


Edwir Sulaiman
Redaktur Pelaksana Riau Pos

50 % Persyaratan Cagub Independen Tidak Memenuhi Syarat

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pekanbaru menemukan banyak permasalahan dukungan Bakal Calon Gubernur Riau independen. Lebih dari 50 persen dari dukungan yang masuk dinyatakan tidak memenuhi syarat (TMS) sebagai dukungan calon.

"Dari hasil verifikasi di tingkat KPU, ada banyak ditemukan permasalahan dari dukungan yang sifatnya kolektif, yang tidak sesuai dengan petunjuk KPU Provinsi," jelas anggota KPU Kota Pekanbaru Abdul Wahid, Kamis (16/5/13).

Wahid menjelaskan, verifikasi dukungan kolektif bermasalah dari lembar dukungan yang tidak ditandatangani setiap lembarnya oleh pasangan calon, Ada juga yang sifat dukunganya terpotong. Menurutnya itu tidak sesuai dengan Peraturan KPU nomer 9 tahun 12 pasal 43 huruf h dan i, dimana harus setiap lembar kepalanya ditandatangani pasangan calon.

"Banyak yang bermasalah, seharusnya kalau kolektif itu nomer daftarnya ber urut dan di satu kepala ditandatangani. Ada juga yang berurut, tapi lembaranya masing-masing memiliki kepala. Ini harus setiap lembar ditandatangani, tetapi hanay ditandatangani di lembar terahir," contohnya.

Uantuk hasil verifikasi dukungan perseorangan, banyaknya permasalahan ditemui tidak adanya tandatangan atau matrai pendukung perorangan. Dimana, dari hasilverifikasi PPS dukungan perseorangan harus dibubuhi keduanya, kalau hanya satu saja maka tetap dinyatakan sebagai TMS.

Dicontohkanya, dari seratus dukungan yang masuk hanya satu dukungan yang ditandatangani diatas matrai itu yang dianggap MS (memenuhi syarat) dan 99 dinyatakan TMS. "Walau ada dukungan yang ada matrai, tetapi tidak ada tandatangan atau sebaliknya ada tandatangan tidak ada matrai itu TMS," tegasnya.